Apa Itu Influenza A?
Influenza A adalah salah satu jenis virus influenza yang menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Dari empat tipe virus influenza (A, B, C, dan D), tipe A paling sering menyebabkan wabah besar karena mudah berubah (bermutasi) dan bisa menginfeksi manusia maupun hewan, seperti unggas dan babi.
Virus Influenza A dibagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan dua protein di permukaannya, yaitu hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Contoh subtipe yang dikenal adalah H1N1 (pernah menyebabkan pandemi tahun 2009), H3N2, dan H5N1 (flu burung).
Bagaimana Influenza A Menular?
Virus influenza menyebar dengan mudah dari orang ke orang melalui:
Percikan (droplet) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
Sentuhan benda yang terkontaminasi, seperti gagang pintu, meja, atau ponsel, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.
Kontak dekat dengan penderita, terutama di ruangan tertutup dan padat.
Seseorang dapat menularkan virus sejak sekitar satu hari sebelum gejala muncul hingga 5–7 hari setelah sakit. Pada anak-anak, masa penularan bisa lebih lama.
Gejala Influenza A
Gejala biasanya muncul tiba-tiba, 1–4 hari setelah tertular, antara lain:
Demam tinggi dan menggigil
Batuk kering dan sakit tenggorokan
Hidung tersumbat atau berair
Nyeri otot dan sendi
Sakit kepala
Badan lemas dan sangat lelah
Pada anak, terkadang disertai mual, muntah, atau diare
Berbeda dengan pilek biasa, flu akibat Influenza A umumnya terasa lebih berat dan membuat penderita sulit beraktivitas.
Siapa yang Berisiko Mengalami Komplikasi?
Kelompok berikut perlu lebih waspada:
Anak di bawah 5 tahun, terutama di bawah 2 tahun
Lansia usia 65 tahun ke atas
Ibu hamil
Penderita penyakit kronis seperti diabetes, asma, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan PPOK
Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia (radang paru), bronkitis, infeksi telinga dan sinus, serta memburuknya penyakit kronis yang sudah ada.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya berikut:
Sesak napas atau napas cepat
Nyeri atau rasa tertekan di dada
Bibir atau kulit kebiruan
Demam tinggi yang tidak turun lebih dari 3 hari
Kebingungan, sulit dibangunkan, atau kejang
Tidak bisa minum dan tanda dehidrasi (jarang buang air kecil)
Gejala membaik lalu memburuk kembali
Diagnosis dan Pengobatan
Dokter dapat mendiagnosis influenza dari gejala klinis dan, bila perlu, pemeriksaan swab hidung/tenggorokan (rapid test atau PCR).
Sebagian besar kasus ringan bisa sembuh dengan perawatan di rumah:
Istirahat yang cukup
Minum air putih yang banyak
Konsumsi makanan bergizi
Obat penurun demam dan pereda nyeri sesuai anjuran dokter
Pada pasien berisiko tinggi atau bergejala berat, dokter dapat memberikan obat antivirus seperti oseltamivir. Obat ini paling efektif bila diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Antibiotik tidak membunuh virus influenza dan hanya diberikan bila ada infeksi bakteri tambahan.
Pencegahan Influenza A
1. Vaksinasi influenza
Vaksin influenza adalah cara pencegahan paling efektif. Karena virus terus berubah, vaksin dianjurkan diberikan setiap tahun, terutama bagi kelompok berisiko tinggi dan tenaga kesehatan.
2. Cuci tangan dengan benar
Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik, atau gunakan hand sanitizer berbasis alkohol.
3. Terapkan etika batuk dan bersin
Tutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan bagian dalam saat batuk dan bersin, lalu buang tisu ke tempat sampah.
4. Gunakan masker
Kenakan masker saat sedang sakit, berada di keramaian, atau menjenguk orang sakit di rumah sakit.
5. Jaga daya tahan tubuh
Tidur cukup, makan makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, dan hindari merokok.
6. Istirahat di rumah saat sakit
Bila bergejala flu, hindari bepergian, sekolah, atau bekerja sampai demam hilang minimal 24 jam tanpa obat penurun panas, agar tidak menularkan ke orang lain.
7. Hindari kontak dengan unggas sakit atau mati
Langkah ini penting untuk mencegah penularan subtipe flu burung seperti H5N1.